Possible Famine? Possible solution!
Banyak sekali ahli ekonomi yang kemudian berposulat bahwa di masa depan itu mungkin saja akan terjadi sebuah famine atau kelaparan, Hal ini terjadi karena kesalahan Donald Trump yang kemudian gagal untuk memenangkan Iran sama dengan cepatnya dia melakukan pengecewelan. Pada akhirnya ini menjadi permasalahan di selat Hormuz.
Namun masalah ini menjadi lebih besar lagi ketika perangan itu menjadi lebih luas dan menyinggung selat yang sebelahan dengan selat Hormuz, yaitu Bab Al-Mandeeb. Perang untuk selat ini sebenarnya adalah isu dari Arab Saudi dengan Houthi. Karena tanpa alasan yang jelas arab saudi itu memprovokasi Houthi dengan mencoba untuk melakukan pembunuhan terhadap pemimpinnya. Menjadi masalah karena apabila perangan itu melebar kita tidak bisa menjamin apapun, bisa terjadi salah serang / miskom / dll.
Lalu hal ini berimbas kepada lancar tidaknya komoditas yang digunakan untuk membuat pupuk, dalam pupuk berkurang maka hijau hijau berkurang dan lambat laun itu akan mempengaruhi peternakan juga. Jadi nanti bayangkan di masa depan itu buah manis dan bulir padi itu mungkin akan lebih kecil dan jumlahnya lebih sedikit.
Nah sebenarnya kita sebagai masyarakat biasa ya tidak bisa terlalu banyak komplain, Power play, “the strong do what they can and the weak suffer what they must” – Thucydides.
Beberapa solusi sudah saya pikirkan misalnya kayak menanam, tapi lahan di perkotaan itu cukup kecil jadi tidak bisa menanam tanaman staples tidak optimal. Tanaman macam seperti kentang, singkong, talas: adalah solusi apabila kita tidak ada makanan di pasar. Sedangkan leafy green itu tidak bisa menjadi jalan keluar.
bahkan bila anda start untuk belajar berkebun sekarang pun, Anda perlu belajar dalam soal : mikroorganisme, pupuk, pestisida anti hama, cara pemupukan, asam dan basa bagi tanaman, metode jadam, biosaka, jakaba, hemat bertani, cuaca, profil tanaman masing-masing, belum lagi kecocokan psikologi Anda dengan berkebun (Bayangkan anda adalah orang teknik mesin, yang kemudian suka main kasaran, sedangkan tumbuhan itu adalah sesuatu yang fragile dan walaupun diam tumbuhan itu bisa stres).
Tapi kelihatannya hanya satu solusi yang sangat efektif yaitu adalah belajar untuk berpuasa. Belajarlah makan sehari sekali atau one meal a day. mungkin anda akan sinis tapi dengan anda belajar posisi sekarang psikologi anda ketika masa famine itu tidak akan terlalu terganggu dan anda tidak akan kaget dengan situasi yang besar nanti di masa depan.
Lagian dalam pencarian saya di internet makan tiga kali sehari itu mungkin adalah sebuah propaganda yang tidak ada basisnya dan bikin badan sakit, nyatanya dengan kebiasaan yang ada sekarang orang-orang itu menjadi semakin gemuk dan badannya semakin besar. kalau anda tidak percaya dengan ini maka coba aja anda lihat sepeda motor yang kita gunakan sehari-hari, bandingkan beban maksimal motor motor di tahun 2026 dibandingkan di tahun 90an. Saya pun tidak menyangka bahwa badan kelihatan baik tapi sebenarnya adalah obesitas tipe 1.
Cuma di sisi lain bisa saja famine ini adalah bagi seluruh dunia pembelajaran untuk memperbaiki pola makan menjadi yang benar, cuma jelasnya hal itu tidak akan sama pada negara-negara yang sifatnya miskin. Ketika makanan menjadi langka seluruh dunia akan bidding the price, yg kaya bisa beli tapi tidak yang miskin.